Mengupas Isu Fatherless Yang Kembali Mencuat. Pengaruhi Generasi Mendatang?



Dalam beberapa dekade terakhir, fenomena fatherless atau ketiadaan figur ayah dalam kehidupan anak menjadi isu sosial yang semakin mendesak untuk dibahas. Secara sederhana, fatherless merujuk pada kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Hal ini dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti perceraian, kematian, ketidakhadiran secara fisik karena pekerjaan, atau bahkan ketidakpedulian ayah terhadap peran dalam keluarga. Di sisi lain, fatherless juga mencakup ketidakhadiran secara emosional, di mana seorang ayah hadir secara fisik namun tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan anak. Isu ini penting untuk Coolins ketahui karena dampaknya yang luas terhadap perkembangan individu, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Hudaniah S.Psi., M.Si, Dosen Psikologi sekaligus UPT Bimbingan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang, fatherless bisa juga dikenal dengan istilah father hunger. Artinya, seorang anak mengalami sebuah gejala kurang kasih sayang dari figur seorang ayah. Peran figur ayah di dalam pengasuhan anak baik secara fisik maupun psikologis berjalan secara minim atau bahkan tidak ada, Kondisi ini menyebabkan seorang anak menjadi ‘lapar’ akan perhatian seorang ayah. Kondisi lapar akan perhatian ayah ini menurutnya cukup mempengaruhi perkembangan mental seorang anak. Dalam beberapa kasus, beberapa anak laki-laki akan kesulitan akan kesulitan memperoleh panutan dan anak perempuan akan berusaha mencari figur pengganti ayah di luar keluarga. 

“Kondisi fatherless ini bisa disebut juga sebagai father hunger. Jadi kondisi father hunger ini dimana seorang anak lapar akan perhatian dari figur seorang ayah. Faktornya bisa karena pola pengasuhan dari si ayah yang minim atau bahkan tidak diasuh sama sekali baik secara fisik atau psikologis. Fatherless ini cukup mempengaruhi perkembangan mental dari seorang anak” Ujar Hudaniah saat diwawancarai.

Peran Krusial Seorang Ayah

Sebelum membahas lebih jauh soal fatherless, terlebih dahulu penulis akan membahas bagaimana pentingnya sosok ayah dalam kehidupan anak. Dalam kehidupan sosial, ibu dan ayah memiliki peran yang berbeda. Biasanya seorang ibu, akan bertugas sebagai pengasuh dan pendidik utama di dalam sebuah keluarga, sementara ayah berfungsi sebagai pencari nafkah untuk menunjang finansial. Tidak hanya dalam fungsi finansial aja, ayah juga punya peran penting dalam mengasuh tumbuh kembang seorang anak, utamanya soal pendidikan dan moralitas. Peran ayah dalam keluarga adalah sebagai seorang pemimpin. Coolins harus tahu, ayah memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk karakter dan mental seorang anak. Peran ayah dalam kehidupan anak tidak dapat diabaikan. Ayah memiliki pengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Dia dapat berbicara, bermain, atau melakukan kontak verbal dengan anaknya. Pertumbuhan anak di masa depan sangat dipengaruhi oleh semua itu. Selain mengatur dan mengawasi kegiatan anak-anak mereka, figur ayah juga dapat mendidik anak anak mereka tentang perilaku sosial dan lingkungan. Ayah memainkan peranan penting dalam memberikan bimbingan, dukungan emosional, stabilitas, dan bimbingan kepada anak.

Cara seorang ayah dalam menghadapi tantangan hidup bisa menjadi pelajaran berharga bagi anak untuk mengembangkan karakter yang kuat. Tanpa adanya peran ayah, hal tersebut sulit untuk dilakukan. Sosok ayah dalam keluarga juga berfungsi untuk memberikan kestabilan emosional. Ayah yang terlibat secara emosional membantu anak mengembangkan rasa percaya diri dan kestabilan emosional. Interaksi positif dengan ayah juga membantu anak mengelola stres dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Kombinasi pengasuhan dari ayah dan ibu memberikan perspektif yang lebih luas bagi anak dalam memahami kehidupan. Seorang anak dengan diasuh oleh peran ayah secara aktif, cenderung memiliki risiko lebih rendah untuk terlibat dalam perilaku negatif, seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, atau kekerasan. 

Penyebab Kondisi Fatherless

Salah satu penyebab utama fatherless adalah perceraian atau perpisahan orang tua. Anak-anak yang hidup dalam keluarga yang mengalami perceraian sering kehilangan hubungan dekat dengan ayah mereka karena pergeseran tanggung jawab pengasuhan. di Indonesia sendiri, masalah fatherless sudah ada sejak lama. Fatherless sering kali terjadi akibat berbagai faktor seperti perceraian. Perceraian menjadi salah satu faktor besar yang mempengaruhi adanya fatherless di Indonesia. Menurut data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2022, lebih dari 516.000 kasus perceraian tercatat di Indonesia, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% kasus mengakibatkan hak asuh anak jatuh ke tangan ibu, sementara hubungan antara ayah dan anak sering kali renggang atau terputus. Kebanyakan kasus perceraian tersebut mayoritas diajukan oleh pihak istri. Adapun menurut BPS, faktor penyebab perceraian di Indonesia sepanjang 2022 bervariasi, mulai dari perselisihan, ekonomi, meninggalkan salah satu pasangan, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Ketidakhadiran secara emosional juga menjadi salah satu faktor. Beberapa ayah, meskipun hadir secara fisik, tapi tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak. Hal ini sering terjadi karena tekanan pekerjaan, kurang paham soal pola asuh, atau hubungan yang tidak sehat dengan anggota keluarga lain. Ayah yang tidak hadir secara emosional bisa menghilangkan peran pentingnya sebagai role model. Anak, terutama laki-laki, sering belajar tentang nilai-nilai seperti tanggung jawab, keberanian, dan disiplin dari sosok ayah.

Selain faktor emosional, Kehilangan ayah karena kematian menciptakan dinamika keluarga yang sulit dan dapat menyebabkan hilangnya figur pelindung, pengasuh, dan panutan. Dalam kasus ini, sosok ayah tidak hadir secara fisik maupun emosional. Faktor fatherless yang satu ini merupakan suatu faktor yang menyakitkan. Tidak jarang, sosok ibu dalam kasus ini harus mempunyai peran ganda sebagai sosok ibu sekaligus ayah. Anak-anak yang kehilangan ayah karena meninggal biasanya mengalami dampak emosional yang cukup berat. Rasa kehilangan, sedih, atau bahkan bingung bisa jadi hal yang sulit diatasi, apalagi kalau mereka masih kecil dan belum mengerti sepenuhnya soal kematian. Tidak jarang juga mereka jadi merasa kesepian atau kehilangan rasa aman, karena ayah sering dianggap sebagai simbol perlindungan dalam keluarga.

Selain itu, dampak sosial dan ekonomi juga bisa terasa. Ayah adalah tulang punggung keluarga, kepergiannya bisa membuat kondisi keuangan jadi tidak stabil. Ibu harus bekerja lebih keras sehingga mungkin membuat waktu untuk mendampingi anak-anak jadi berkurang. Di sisi lain, anak-anak bisa jadi kehilangan panutan laki-laki di hidup mereka, terutama untuk hal-hal yang biasanya lebih banyak diajarkan ayah.

Selain faktor emosional, Kehilangan ayah karena kematian menciptakan dinamika keluarga yang sulit dan dapat menyebabkan hilangnya figur pelindung, pengasuh, dan panutan. Dalam kasus ini, sosok ayah tidak hadir secara fisik maupun emosional. Faktor fatherless yang satu ini merupakan suatu faktor yang menyakitkan. Tidak jarang, sosok ibu dalam kasus ini harus mempunyai peran ganda sebagai sosok ibu sekaligus ayah. Anak-anak yang kehilangan ayah karena meninggal biasanya mengalami dampak emosional yang cukup berat. Rasa kehilangan, sedih, atau bahkan bingung bisa jadi hal yang sulit diatasi, apalagi kalau mereka masih kecil dan belum mengerti sepenuhnya soal kematian. Tidak jarang juga mereka jadi merasa kesepian atau kehilangan rasa aman, karena ayah sering dianggap sebagai simbol perlindungan dalam keluarga.

Faktor lainnya adalah faktor kehamilan diluar nikah. Dalam beberapa kasus, ayah mungkin tidak pernah terlibat dalam kehidupan anak sejak awal, terutama dalam situasi kehamilan yang tidak direncanakan atau hubungan yang tidak stabil. Hal ini terjadi karena hubungan yang tidak diikat pernikahan seringkali kurang memiliki komitmen yang kuat. Menurut laporan dari BKKBN, di tahun 2023 saja ada 50 ribu anak menikah dini karena mayoritas hamil di luar nikah. Ketika seorang perempuan hamil di luar nikah, tidak jarang pihak laki-laki memilih untuk lepas tanggung jawab, baik karena merasa belum siap, takut, atau tidak mau terikat. Banyak kasus menunjukkan bahwa perempuan yang hamil di luar nikah harus menjalani kehamilan dan membesarkan anak sendirian. Beberapa laki-laki mungkin menghilang begitu saja, atau bahkan menolak mengakui anak tersebut sebagai tanggung jawabnya.

Dan faktor yang terakhir adalah faktor pekerjaan dari ayah. Faktor minimnya lapangan pekerjaan di tempat asal menyebabkan seorang ayah harus merantau. Kondisi merantau memaksa seorang ayah meninggalkan keluarga untuk mencari penghidupan juga menjadi faktor yang memperbesar kemungkinan fatherless. Sebagai seorang ayah, keinginan untuk mampu membahagiakan keluarga menjadi prioritas utama. Untuk mampu meraih kebahagiaan tentu haruslah ditunjang dengan kemampuan finansial yang mumpuni yang diperoleh dari bekerja. di Indonesia, budaya merantau dan bekerja di luar kota atau negara lumrah ditemukan. Merantau sering dilakukan jika pekerjaan di kota atau negara lain memiliki potensi penghasilan yang lebih baik. Contoh dari pekerja rantau adalah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Di tahun 2023 contohnya, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker) mencatat jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berjenis kelamin laki-laki mencapai 74.306 laki-laki yang tersebar di berbagai negara. Kebanyakan dari mereka meninggalkan keluarga selama bertahun-tahun, yang berkontribusi pada ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak. Meski kebutuhan finansial terpenuhi, tetapi kebutuhan emosional anak kurang tercukupi karena tidak ada sosok ayah yang mendampingi anak selama bertahun-tahun.

Dampak Fatherless

Kehadiran figur ayah memiliki peran fundamental dalam pembentukan karakter, keseimbangan emosional, dan keberhasilan anak di masa depan. Ketidakhadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, dapat membawa dampak luas yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan anak. Anak yang tumbuh tanpa ayah sering menghadapi kesulitan dalam memahami siapa mereka dan apa tujuan hidup mereka. Kehilangan figur ayah dapat menyebabkan kekosongan nilai moral dan prinsip hidup. Tanpa adanya sosok ayah yang mendampingi, seorang anak akan sulit untuk memperoleh kepercayaan dirinya. 

Seorang anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah cenderung mencari tahu makna benar dan salah secara mandiri karena hilangnya figur panutan utama dalam pembentukan moral dan nilai-nilai etika. Ayah, dalam banyak budaya dan lingkungan keluarga, memainkan peran penting sebagai pengarah moral dan pemberi panduan tentang aturan sosial. Ketika ayah tidak hadir, anak sering kali kehilangan seseorang yang dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Mereka merasa harus menentukan sendiri siapa mereka dan apa yang mereka anggap benar atau salah, sering kali melalui proses trial and error yang panjang. 

Akibat tidak adanya sosok ayah yang membimbing, anak secara tidak langsung akan mencari sosok pengganti. Tanpa panduan dari dari sosok ayah, anak lebih rentan terhadap pengaruh luar, baik dari teman sebaya, komunitas, maupun media. Lingkungan ini tidak selalu menawarkan nilai-nilai positif, yang dapat membuat anak lebih sulit membedakan mana yang benar dan salah. Hal ini dapat menyebabkan konflik internal atau perilaku yang bertentangan dengan norma sosial seperti tindakan kriminal bahkan penyimpangan seksual. Di dalam tahap ini, anak akan mulai mencari jati dirinya.

Hal tersebut dialami oleh AW (22), seorang pria asal kota Surabaya yang merasakan kondisi fatherless dalam hidupnya. AW mengalami kondisi fatherless sejak usia 10 tahun. Kala itu kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Selepas perceraian tersebut, hak asuh anak dipegang sepenuhnya oleh sang ibu. Momen perceraian tersebut memunculkan jarak antara AW dan sang ayah. AW dan ayahnya menjadi jarang untuk bertemu dan frekuensi interaksi mereka perlahan mulai meredup. Selama masa remajanya, AW menjalani kehidupan tanpa sang ayah. Kondisi ini membuat AW kesulitan dalam mencari jati diri. AW terjerumus kedalam pergaulan bebas dan tindak kriminal. Karena tidak ada sosok ayah yang menjadi pembimbing, AW mencari pengganti sosok ayahnya melalui teman dan lingkungannya. Mayoritas teman-temannya pada saat itu berusia lebih tua dari AW. Berbagai macam kenakalan ia lakukan seperti tawuran, seks bebas, dan berbagai macam kenakalan lainnya.

“Saya termasuk anak yang dulunya itu tumbuh tanpa adanya sosok dan peran seorang ayah. Ketika nggak punya sosok ayah, saya jadi nggak punya sosok yang bisa jadi panutan. Ga ada yang bisa membimbing saya lah waktu itu. Jadi, secara nggak langsung saya cari figur pengganti ayah lewat teman dan pergaulan. Kebetulan teman dan pergaulan saya pada waktu itu adalah lingkungan yang bisa dibilang buruk karena suka bikin keributan dan keonaran”. Ujar AW saat diwawancarai oleh redaksi Mascoolin. 

Solusi Menangani Fatherless

Fenomena fatherless membutuhkan solusi yang terintegrasi dari berbagai pihak, termasuk keluarga, masyarakat, pemerintah, dan individu. Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk mengatasi dampak fatherless dan mencegah peningkatan kasusnya.

  1. Mengikuti Konseling Pernikahan.

Program edukasi tentang pentingnya peran ayah dan konseling pernikahan dapat membantu mengurangi angka perceraian dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keluarga yang utuh. Fungsi konseling pernikahan dalam menangani fatherless guna memberikan pemahaman kepada kedua pasangan utamanya mengenai pentingnya peran kedua orang tua utamanya seorang ayah. Konseling ini bertujuan membantu pasangan memahami satu sama lain, menyelesaikan masalah sehingga mampu terhindar dari faktor penyebab fatherless yaitu perceraian. Dengan komunikasi yang lebih baik dan penyelesaian konflik yang efektif, peluang ayah tetap hadir dan berperan dalam hidup anak akan lebih besar. Fatherless sering terjadi karena masalah dalam hubungan orang tua, seperti perceraian, ketidakharmonisan, atau ketidaksiapan menjadi orang tua. Dalam konseling pernikahan, pasangan bisa mendapat panduan dari konselor profesional untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

  1. Mendukung Sosok Ibu Tunggal dan Beri Perhatian Lebih Kepada Anak

Memberikan dukungan kepada ibu tunggal adalah salah satu cara penting untuk mengatasi masalah fatherless. Ketika seorang ibu harus membesarkan anak sendirian, peran ayah yang hilang dapat digantikan atau dilengkapi melalui dukungan dari orang terdekat seperti  keluarga dan teman dari si ibu. Selain dukungan secara moral, Coolins juga bisa memberikan dukungan secara finansial kepada ibu tunggal. Coolins bisa memberikan keterampilan dalam berwirausaha. Keterampilan kerja atau program kewirausahaan kepada ibu tunggal memungkinkan mereka mendapatkan penghasilan yang layak. Dengan pekerjaan atau usaha yang stabil, ibu bisa lebih tenang dalam memenuhi kebutuhan anak tanpa harus terlalu khawatir tentang masalah ekonomi. Layanan konseling dan terapi untuk anak-anak dan keluarga fatherless dapat membantu mengurangi dampak psikologis dan sosial dari fenomena ini. 

Video: Lihat juga video mengenai Fatherless

Penulis: Sendy Aditya/Mascoolin

Foto Cover: Sendy Aditya/Mascoolin

Video: Sendy Aditya/Mascoolin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *